Minggu, 23 Januari 2011

teori warna 5


Memahami Warna
Minggu, 16 Agustus 2009
Warna memiliki Panjang gelombang

Identitas warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar
antara 380-780 nanometer.

Andaikan dunia tanpa warna. Rekah bunga tidak merah, daun tidak hijau, jeruk tampak tidak menggiurkan karena tidak berwarna oranye, bisa jadi hidup tidak ceria dan seru. Sebenarnya apakah warna itu? Benarkah warna adalah sebuah rekayasa mata? Atau memang benar adanya karena refleksi cahaya? Mari kita bahas soal warna pada kesempatan kali ini.

Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar antara 380-780 nanometer.

Warna-warna dengan panjang gelombang itu misalnya merah, oranye, kuning, hijau, biru, dan ungu. Sedangkan warna di atas panjang gelombang itu tidak bisa. Misalnya pada sinar Matahari, yang warnanya putih dan menjurus menyilaukan mata.

Di dalam ilmu warna, hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis gelombang warna. Sementara putih dianggap sebagai representasi kehadiran seluruh gelombang warna dengan proporsi seimbang. Secara ilmiah, keduanya bukanlah warna, meskipun bisa dihadirkan dalam bentuk pigmen.

Melalui peralatan optik, warna bisa pula berarti interpretasi otak terhadap campuran tiga warna primer cahaya: merah, hijau, biru yang digabungkan dalam komposisi tertentu. Misalnya pencampuran 100 persen merah, nol persen hijau, dan 100 persen biru akan menghasilkan interpretasi warna magenta.

Dalam seni rupa, warna bisa berarti pantulan tertentu dari cahaya yang dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Misalnya pencampuran pigmen magenta dan cyan dengan proporsi tepat dan disinari cahaya putih sempurna akan menghasilkan sensasi mirip warna merah. nala dipa

Berpendar dalam Gelap



Apakah kamu pernah mendengar istilah glow in the dark? Yakni suatu benda yang warnanya justru dapat memancar ketika gelap gulita. Glow in the dark merupakan fenomena yang membuktikan bahwa tidak selamanya cahaya diperlukan agar suatu benda tampak. Satu hal lagi, apa pun benda dapat dibuat glow in the dark. Termasuk tangan kamu. Tidak percaya? Yuk..kita buat percobaan sederhana.

Yang kamu butuhkan adalah sebuah jeli petroleum. Biasanya disebut cat glow in the dark. Cat ini berwarna transparan (seperti air putih) maka itu kadang juga disebut invisible ink (tinta tidak berwarna). Kamu bisa mendapatkan jeli ini di toko peralatan tulis atau melukis. Benda lain yang kamu butuhkan adalah sarung tangan karet putih berbahan lateks. Percobaan sebaiknya dilakukan ketika malam hari dan di sebuah kamar.

Pakailah sarung karet itu di salah satu satu tanganmu. Kemudian mencelupkan ke tinta. Lalu matikan lampu kamarmu. Maka yang terjadi adalah tanganmu akan menyala. Ada cahaya hijau yang berpendar dari tanganmu.
Percobaan juga bisa kamu lakukan pada selembar kertas putih. Tulis atau gambarlah sesuatu yang kamu sukai pada kertas tadi. Sebaiknya gambar atau coret kata yang pendek saja, misalnya mobil, bola, buku, gitar, atau boneka. Soalnya tinta ini mudah sekali kering. Selanjutnya, carilah ruang yang gelap gulita. Maka gambar atau kata yang kamu tulis itu akan tampak dan bercahaya.

Hal ini terjadi karena spektrum cahaya tinta glow in the dark di luar kemampuan tangkap mata. Tinta itu berwarna transparan atau berkategori ultraviolet B. Sedangkan mata tidak mampu menangkap warna di kategori yang penuh energi itu.

Hal itu terjadi karena cat mengandung fosfor. Barang tambang yang mengandung zink silikat, tembaga, perak, dan mangan, ini mampu menyimpan refleksi cahaya ketika terang. Dan memendarnya ketika gelap. Maka itu fosfor sering digunakan untuk pembuatan tabung sinar katoda atau lampu fluoresen. A-2

Bermain dan Campuran Warna


Seperti kamu ketahui bahwa merah, kuning dan biru merupakan warna primer (utama). Dari percampuran tiga warna inilah lahir beragam warna lain. Mari kita buktikan hal itu. Pertama, persiapkan tiga macam pewarna makanan ; merah, kuning, dan biru. Kemudian, satu gelas bening dan air putih.

Isi gelas dengan air. Tidak perlu penuh, cukup separuhnya. Kemudian masukan masing-masing pewarna makanan itu dengan takaran seimbang. Misalnya, bila satu warna sebanyak sepertiga sendok makan, maka warna yang juga sama. Lakukanlah kombinasi percampuran hanya dengan dua macam pewarna.

Pertama, merah dengan kuning yang menghasilkan warna oranye. Lalu, merah dengan biru yang akan menghasilkan warna ungu. Ketika biru dengan kuning yang akan menghasilkan warna hijau.

Oranye, ungu, dan hijau itu kemudian disebut warna sekunder. Warna sekunder lainnya dapat lahir dari percampuran antar warna sekunder. Ada pula warna hitam yang merupakan percampuran di antara warna-warna itu bila dalam komposisi berlebih. A-2



Hitam, Si Penyerap Panas

Apa hubungan warna dan pengaruh panas. Tentu ada. Bahkan hitam diyakini sebagai warna yang sifatnya menyerap panas. Sedangkan putih merupakan warna yang memantulkan panas.

Maka itu ketika hari cerah bercahaya, sebaiknya kamu memakai pakaian berwarna putih agar tidak terlalu panas. Begitu juga ketika memilih payung, cat kendaraan, hingga genteng rumah, usahakan jangan berwarna hitam bila tidak ingin terlalu panas.

Tidak percaya, hitam merupakan warna penyerap panas? Mari lakukan percobaan ini. Siapkan selembar aluminium, double tape (lem bolak-balik), stoples, dan selembar kertas karton.

Guntinglah aluminium itu dengan ukuran 10 x 2,5 sentimeter. Pada salah satu sisinya kamu cat hitam dengan menggunakan spidol. Setelah dipotong, lipat bagian tengahnya sehingga membentuk seperti kapal.

Gantunglah “kapal aluminium” itu dengan menggunakan karton. Dan kemudian letakkan di dalam stoples. Taruhlah stoples di sengatan matahari. Yang terjadi beberapa saat kemudian adalah lipatan pada kapal aluminium itu perlahan akan kembali. Apalagi ketika stoples semakin panas.

Yang terjadi adalah keberadaan sisi hitam di aluminium akan mempercepat penyerapan panas. Kemudian, energi panas itu mendorong aluminium yang bengkok untuk kembali seperti semula. A-2

teori warna 4


Bagaimana Kita Melihat Warna

Posted on by adri79
Rate This
Quantcast
Warna
Warna
Warna merupakan persepsi seseorang terhadap berbagai panjang gelombang cahaya, jadi warna yang kita lihat adalah pantulan atau refleksi cahaya dari suatu objek. Bila ada cahaya mengenai suatu obyek, cahaya itu akan diserap oleh objek tersebut, kemudian warna objek tersebut memantul pada mata. Jadi, sebetulnya yang kita lihat adalah cahaya dan panjang gelombang cahaya. Panjang gelombang cahaya yang dapat dilihat yaitu sekitar 380 – 390 nanometer. Panjang gelombang cahaya tersebut ada yang pendek, sedang dan panjang.
Untuk dapat melihat warna, mata mempunyai sensor yang paling dalam dan paling berperan yaitu sel retina. Di dalam sel retina mata normal terdapat 2 macam sel untuk melihat cahaya, yakni sel batang dan sel kerucut. Sel batang aktif melihat cahaya dalam gelap dan sel kerucut melihata cahaya dalam terang. Di dalam sel kerucut terdapat 3 macam pigmen yang akan menyerap sinar, yaitu pigmen biru, hijau dan kuning (termasuk warna merah di dalamnya). Penyerapan cahaya oleh sel kerucut ini akan bermacam-macam hasilnya. Jika cahaya yang diserap mempunyai gelombang pendek, maka gelombang ini akan mengaktifkan pigmen biru, sehingga akan terlihat warna biru. Pigmen kuning dan hijau sensitif terhadap panjang gelombang menengah. Pigmen kuning pun akan menyerap gelombang cahaya tertentu yang merangsang sel kerucut yang mengandung warna merah lebih dari yang lain.
Sensivitas warna-warna yang normal ini tergantung pada tumpang tindih antara penyerapan ketiga warna biru, hijau dan kuning. Apakah misalnya merah kekuning-kuningan atau kuning kehijau-hijauan. Nah, tumpang tindih warna-warna tersebut akan merangsang pigmen-pigmen; sebagian pigmen kuning dan sebagian pigmen hijau. Apa yang dilihat ini kemudian akan diteruskan ke otak sehingga kita bisa melihat warna.

protein

Protein

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Segelas susu sapi. Susu sapi merupakan salah satu sumber protein.
Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.
Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838.
Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosom.[1] Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi.[2][3]

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Struktur

Struktur tersier protein. Protein ini memiliki banyak struktur sekunder beta-sheet dan alpha-helix yang sangat pendek. Model dibuat dengan menggunakan koordinat dari Bank Data Protein (nomor 1EDH).
Struktur protein dapat dilihat sebagai hirarki, yaitu berupa struktur primer (tingkat satu), sekunder (tingkat dua), tersier (tingkat tiga), dan kuartener (tingkat empat):[4][5]
  • struktur primer protein merupakan urutan asam amino penyusun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida (amida). Frederick Sanger merupakan ilmuwan yang berjasa dengan temuan metode penentuan deret asam amino pada protein, dengan penggunaan beberapa enzim protease yang mengiris ikatan antara asam amino tertentu, menjadi fragmen peptida yang lebih pendek untuk dipisahkan lebih lanjut dengan bantuan kertas kromatografik. Urutan asam amino menentukan fungsi protein, pada tahun 1957, Vernon Ingram menemukan bahwa translokasi asam amino akan mengubah fungsi protein, dan lebih lanjut memicu mutasi genetik.
  • struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. Berbagai bentuk struktur sekunder misalnya ialah sebagai berikut:
    • alpha helix (α-helix, "puntiran-alfa"), berupa pilinan rantai asam-asam amino berbentuk seperti spiral;
    • beta-sheet (β-sheet, "lempeng-beta"), berupa lembaran-lembaran lebar yang tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan hidrogen atau ikatan tiol (S-H);
    • beta-turn, (β-turn, "lekukan-beta"); dan
    • gamma-turn, (γ-turn, "lekukan-gamma").[4]
  • struktur tersier yang merupakan gabungan dari aneka ragam dari struktur sekunder. Struktur tersier biasanya berupa gumpalan. Beberapa molekul protein dapat berinteraksi secara fisik tanpa ikatan kovalen membentuk oligomer yang stabil (misalnya dimer, trimer, atau kuartomer) dan membentuk struktur kuartener.
  • contoh struktur kuartener yang terkenal adalah enzim Rubisco dan insulin.
Struktur primer protein bisa ditentukan dengan beberapa metode: (1) hidrolisis protein dengan asam kuat (misalnya, 6N HCl) dan kemudian komposisi asam amino ditentukan dengan instrumen amino acid analyzer, (2) analisis sekuens dari ujung-N dengan menggunakan degradasi Edman, (3) kombinasi dari digesti dengan tripsin dan spektrometri massa, dan (4) penentuan massa molekular dengan spektrometri massa.
Struktur sekunder bisa ditentukan dengan menggunakan spektroskopi circular dichroism (CD) dan Fourier Transform Infra Red (FTIR).[6] Spektrum CD dari puntiran-alfa menunjukkan dua absorbans negatif pada 208 dan 220 nm dan lempeng-beta menunjukkan satu puncak negatif sekitar 210-216 nm. Estimasi dari komposisi struktur sekunder dari protein bisa dikalkulasi dari spektrum CD. Pada spektrum FTIR, pita amida-I dari puntiran-alfa berbeda dibandingkan dengan pita amida-I dari lempeng-beta. Jadi, komposisi struktur sekunder dari protein juga bisa diestimasi dari spektrum inframerah.
Struktur protein lainnya yang juga dikenal adalah domain. Struktur ini terdiri dari 40-350 asam amino. Protein sederhana umumnya hanya memiliki satu domain. Pada protein yang lebih kompleks, ada beberapa domain yang terlibat di dalamnya. Hubungan rantai polipeptida yang berperan di dalamnya akan menimbulkan sebuah fungsi baru berbeda dengan komponen penyusunnya. Bila struktur domain pada struktur kompleks ini berpisah, maka fungsi biologis masing-masing komponen domain penyusunnya tidak hilang. Inilah yang membedakan struktur domain dengan struktur kuartener. Pada struktur kuartener, setelah struktur kompleksnya berpisah, protein tersebut tidak fungsional.

[sunting] Kekurangan Protein

Protein sendiri mempunyai banyak sekali fungsi di tubuh kita. Pada dasarnya protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh. Setiap orang dewasa harus sedikitnya mengkonsumsi 1 g protein pro kg berat tubuhnya. Kebutuhan akan protein bertambah pada perempuan yang mengandung dan atlet-atlet.
Kekurangan Protein bisa berakibat fatal:
  • Kerontokan rambut (Rambut terdiri dari 97-100% dari Protein -Keratin)
  • Yang paling buruk ada yang disebut dengan Kwasiorkor, penyakit kekurangan protein.[7] Biasanya pada anak-anak kecil yang menderitanya, dapat dilihat dari yang namanya busung lapar, yang disebabkan oleh filtrasi air di dalam pembuluh darah sehingga menimbulkan odem.Simptom yang lain dapat dikenali adalah:
  • Kekurangan yang terus menerus menyebabkan marasmus dan berkibat kematian.

[sunting] Sintese protein

Artikel utama: Proteinbiosynthese
Dari makanan kita memperoleh Protein. Di sistem pencernaan protein akan diuraikan menjadi peptid peptid yang strukturnya lebih sederhana terdiri dari asam amino. Hal ini dilakukan dengan bantuan enzim. Tubuh manusia memerlukan 9 asam amino. Artinya kesembilan asam amino ini tidak dapat disintesa sendiri oleh tubuh esensiil, sedangkan sebagian asam amino dapat disintesa sendiri atau tidak esensiil oleh tubuh. Keseluruhan berjumlah 21 asam amino. Setelah penyerapan di usus maka akan diberikan ke darah. Darah membawa asam amino itu ke setiap sel tubuh. Kode untuk asam amino tidak esensiil dapat disintesa oleh DNA. Ini disebut dengan DNAtranskripsi. Kemudian karena hasil transkripsi di proses lebih lanjut di ribosom atau retikulum endoplasma, disebut sebagai translasi.

[sunting] Sumber Protein

Studi dari Biokimiawan USA Thomas Osborne Lafayete Mendel, Profesor untuk biokimia di Yale, 1914, mengujicobakan protein konsumsi dari daging dan tumbuhan kepada kelinci. Satu grup kelinci-kelinci tersebut diberikan makanan protein hewani, sedangkan grup yang lain diberikan protein nabati. Dari eksperimennya didapati bahwa kelinci yang memperoleh protein hewani lebih cepat bertambah beratnya dari kelinci yang memperoleh protein nabati. Kemudian studi selanjutnya, oleh McCay dari Universitas Berkeley menunjukkan bahwa kelinci yang memperoleh protein nabati, lebih sehat dan hidup dua kali lebih lama.

[sunting] Keuntungan Protein

  • Sumber energi
  • Pembetukan dan perbaikan sel dan jaringan
  • Sebagai sintesis hormon,enzim, dan antibodi
  • Pengatur keseimbangan kadar asam basa dalam sel

[sunting] Methode Pembuktian Protein

teori warna 2


Pengantar Teori Warna

Sunday, November 22, 2009

Warna memiliki banyak kegunaan selain dapat mengubah rasa, bisa juga mempengaruhi cara pandang dan bisa menutupi ketidaksempurnaan serta bisa membangun suasana atau kenyamanan untuk semua orang.
Warna adalah satu hal yang sangat penting dalam menentukan respon dari orang. Warna adalah hal yang pertama dilihat oleh seseorang. Setiap warna memberikan kesan dan identitas tertentu, walaupun hal ini tergantung pada latar belakang pengamatnya juga. Seperti warna putih dalam budaya barat memberi kesan suci dan dingin karena diasumsikan dengan salju. Sementara itu, warna putih memberi kesan kesedihan di banyak negara timur.
Ilmu tentang warna seringkali juga disebut Chromatics. Teori warna sudah dikembangkan oleh Alberti (1435) dan diikuti oleh Leonardo da Vinci (1490). Tetapi teori warna mulai mendapat perhatian serius setelah dikembangkan oleh Sir Isaac Newton yang juga ahli fisika melalui bukunya Opticks pada tahun 1704. Pada awalnya teori warna dikembangkan dengan warna dasar merah, kuning, dan biru (Red, Yellow, Blue atau RYB). Pencampuran warna dari warna dasar tersebut benyak dipakai oleh para pelukis, percetakan, dan lain – lain. Perkembangan ilmu yang diperoleh dari pengalaman pencampuran warna ini banyak ditulis oleh Johann Wolfgang von Goethe (1810) dalam bukunya Theory of Colors dan oleh ahli kimia Perancis Michel Eugene Chevreul (1839) dengan bukunya The Law of Simultaneous Color Contrast. Dan baru pada abad 19 para ahli Jerman dan Inggris mulai menemukan bahwa warna dasar yang paling bagus sesungguhnya adalah merah, hijau, dan biru (Red, Green, Blue atau RGB) yang dikembangkan untuk penggabungan cahaya (Color Additive atau penambahan warna). Pada kurun waktu yang sama, para ahli kimia memperoleh kemajuan pesat dalam hal teori pewarnaan cat, tinta, pencelupan dengan menemukan warna dasar tinta yaitu cyan, magenta, dan yellow dengan dibantu warna hitam yang diberi kode K (Key) sehingga singkatannya adalah CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, dan Black). Tinta penggabungan warna ini disebut Color Substractive atau Pengurangan Warna. Para ahli warna yang terus mengembangkan teori warna antara lain adalah Ogden Rood (1879 dengan bukunya Modern Chromatics), Albert Munsell (1915 dengan bukunya Book of Color), Wilhelm Ostwald (1919 dengan bukunya Color Atlas), Wasilly Kandinsky, Johannes Itten, Faber Birren, dan Josef Albers.
Warna adalah satu inspirasi paling berharga yang paling mudah didapati. Sedangkan pengertian warna itu sendiri adalah spectrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (Putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh, warna biru memiliki panjang gelombang sekitar 460 nanometer, sedangkan warna kuning sekitar 650 nanometer.
Persepsi warna sendiri berasal dari kepekaan sel cone dalam retina yang berbeda – beda terhadap bagian – bagian spectrum yang berlainan.

teori warna 1


Teori Warna

Semua orang pada umumnya menyukai warna. Warna menurut banyak ahli psikologi dianggap dapat memengaruhi kejiwaan dan karakter seseorang. karena sangat bergantung dengan faktor subyekif, maka setiap orang dalam memilih warna berdasarkan cara pandang yang berbeda. Oleh karena itulah warna menjadi salah satu bahan pertimbangan saat kita hendak mengecat dinding ruangan kamar kita. Oleh karena itu jelas warna dipakai semua orang, pada saat aktifitas apapun, oleh karena itulah warna sangat berarti bagi kehidupan manusia. Berbagai wacana tentang warna telah menggiring manusia dalam memaknai warna menurut budayanya masing-masing. Warna dijadikan simbol dan kekhasan suatu etnik dan negara tertentu, sebagai contoh paling umum adalam warna merah yang sangat identik dengan budaya oriental yang berarti juga budaya timur atau negara Cina.
Dalam seni rupa warna juga dijadikan sebagai media berekspresi. Bicara tentang warna banyak hal yang bisa dipelajari. Berikut adalah beberapa teori tentang warna yang pernah dikemukakan oleh ahli jaman dahulu:
a. Teori Sir Isaac Newton (1642-1727)
Dari pencobaannya, Newton menyimpulkan bahwa apabila dilakukan pemecahan warna spektrum dari sinar matahari, akan ditemukan warna-warna yang beraneka ragam meliputi merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu warna-warna ini sering disebut dengan mejikuhibiniu. Warna-warna tersebut bisa kita lihat ketika muncul pelangi setelah hujan reda.
b. Teori Brewster
Teori Brewster pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral. Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad


  • Warna primer: Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning.
  • Warna sekunder: Merupakan hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning, hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.
  • Warna tersier: Merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga.
  • Warna netral: Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.
Rumus yang diperoleh dari Teori Brewster tersebut oleh Herbert Ives disempurnakan menjadi skema lingkaran warna. Sampai sekarang skema/diagram lingkaran warna banyak digunakan oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia seni rupa.
Diagram Lingkaran Warna oleh Herbert Ives
C. Teori Munsell
Pada tahun 1858, Munsell menyelidiki warna dengan standart warna untuk aspek fisik dan psikis. Berbeda dengan Newton dan Brewster, Munsell mengatakan warna pokok terdiri dari merah, kuning, hijau, biru dan jingga. Sementara warna sekunder terdiri dari warna jingga, hijau muda, hijau tua, biru tua dan nila
Warna merupakan elemen penting dalam semua lingkup disiplin seni rupa, bahkan secara umum warna merupakan bagian penting dari segala aspek kehidupan manusia. Hal tersebut dapat kita lihat dari semua benda yang dipakai oleh manusia, semua peralatan, pakaian, bahkan alam disekeliling kita merupakan benda yang berwarna. Karena begitu penting peranan warna bagi manusia warna sering kali dipakai sebagai elemen estetis, sebagai representasi dari alam, warna sebagai komunikasi, dan warna sebagai ekspresi.
a. Warna sebagi elemen estetika: disini warna memerankan dirinya sebagai ”warna”, yang mempunyai fungsi dalam membentuk sebuah keindahan. Namun keindahan disini bukan hanya sebagai ”keindahan” semata. Melainkan sebagai unsus eksistensial benda-benda yang ada disekeliling kita. Karena dengan adanya warna kita dimudahkan dalam melihat dan mengenali suatu benda. Sebagai contoh apabila kita meletakkan sebuah benda di tempat yang sangat gelap, mata kita tidak mampu mendeteksi obyek tersebut dengan jelas. Di sini warna mempunyai fungsi ganda dimana bukan hanya aspek keindahan saja namun sebagai elemen yang membentuk diferensial/perbedaan antara obyek satu dengan obyek lain.
b. Warna sebagai representasi dari alam: warna merupakan penggambaran sifat obyek secara nyata, atau secara umum warna mampu menggambarkan sifat obyek secara nyata. Contoh warna hijau untuk menggambarkan daun, rumput; dan biru untuk laut, langit dan sebagainya. Warna dalam hal ini lebih mengacu pada sifat-sifat alami dari obyek tertentu misalnya padat, cair, jauh, dekat dll.
c. Warna sebagai alat/sarana/media komunikasi (fungsi representasi): warna menempatkan dirinya sebagai bagian dari simbol (symbol). Warna merupakan lambang atau sebagai perlambang sebuah tradisi atau pola tertentu. Warna sebagi komunikasi seringkali dapat kita lihat dari obyek-obyek seperti bendera, logo perusahaan, fashion, dll. Warna merupakan sebuah perwakilan atau bahkan sebuah obyek pengganti bahasa formal dalam mengkomunikasikan sesuatu misalnya: merah perlambang kemarahan, patriotisme, seksualitas; kemudian putih sebagai perlambang kesucian, kebersihan, kebaikan dll.